Pasang Iklan Anda

Pasang Iklan Anda
Situs ini kami sewakan kepada anda pengusaha sewa mobil di Medan

Rabu, 03 Desember 2014

Kalender Suku Batak : Langit Tanggal Kehidupan

Orang Batak zaman dulu punya tradisi dalam maningkir parlangitan. Perhitungan kalender secara tradisional itu dilakukan demi menentukan hari baik.

Penanggalan dalam tradisi masyarakat Batak memiliki simbol-simbol untuk mengetahui suatu tanda baik tertentu. Inilah keuletan mereka dalam membaca alam, yaitu lewat langit di malam hari. Tradisi ini menjadi bukti manusia Batak punya peradaban tersendiri.

Masyarakat Batak kuno selalu berpatok pada panjujuran ari (perhitungan hari). Ada hari baik dan ada pula hari buruk. Tak mengherankan orang-orang Batak selalu berkumpul bersama pada suatu waktu, misalnya, untuk menentukan tanggal baik pernikahan bagi anak-anak mereka.

Panjujuran ari merupakan tanda untuk menamai hari hari dalam masyarakat se tempat. Para leluhur telah melakukan penghitungan hari dengan memberikan penamaan pada setiap hari. Dalam penamaan itu dapat dilihat perulangan hari setiap kelipatan tujuh yang dimulai dengan Artia dan berakhir dengan Ringkar. Secara keseluruhan, kalender Batak terdiri atas 12 bulan dengan masingmasing 30 hari. Nama-nama hari dalam penanggalan Batak, yaitu Artia, Suma, Anggara, Muda, Boraspati, Singkora, Samisara, Artia ni Aek, Suma ni Mangadop, Anggara Sampulu, Muda ni Mangadop, Boraspati ni Tangkup, Singkora Purasa, Samisara Purasa, Tula, Suma ni Holom, dan Anggara ni Holom.

Lalu, Muda ni Holom, Boraspati ni Holom, Singkora Moraturun, Samisara Moraturun, Artia ni Angga, Suma ni Mate, Anggara ni Begu, Muda ni Mate, Boraspati Nagok, Singkora Duduk, Samisara Bulan Mate, Hurung, dan Ringkar.

“Kalender Batak memiliki kegunaan bagi masyarakat Batak untuk menentukan hari pernikahan, hari membangun rumah, dan memilih hari baik lainnya. Memang sekarang sudah jarang ada kalender tradisional, tetapi masih bisa kita temukan di kampung-kampung seperti di daerah Tapanuli Utara,“ ujar Nelson Purba, masyarakat Batak Toba yang kini berdomisili di Tebing Tinggi, Deli Serdang, Sumatra Utara, saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (27/11) malam.

Pada zaman dahulu, jarang ditemukan ka lender Batak dalam keadaan tertulis. Masyarakat menghitung hari dengan melihat peredaran bulan dan bintang. Daya ingat orangorang tua yang tajam membuat mereka tidak selalu memandang langit setiap hari dan setiap malam. Prosesi mengamati bulan dan bintang untuk menghitung hari disebut maningkir parlangitan.

“Tanda-tanda mata angin dan rasi bintang selalu dijadikan tetua-tetua dahulu untuk melihat tanggal. Inilah kepercayaan (kuno) yang hingga hari ini masih ada. Namun, dengan adanya kalender Masehi, kalender Batak hanya digunakan pada acara adat saja,“ jelas ayah satu anak kelahiran 9 Maret 1961, itu. Simbol kalajengking Parhalaan berasal dari kata `hala' (kalajengking). Hala ialah binatang berbisa dan bisa mematikan. Dalam pemetaan hari-hari menurut kalen der Batak, hala dibuat jadi lambang yang melintang dalam kolom empat hari. Ada hari buruk, yaitu pada saat penghitungan tepat pada notasi kepala kalajengking, punggung dan ekor, sementara pada bagian perut dianggap hari baik.

Menurut para leluhur, pemetaan itu dilakukan berdasarkan pengamatan bertahun-tahun dan terus diuji akurasinya. Setiap orang memiliki perangai berbeda dengan orang lainnya. Pengaruh itu terjadi pada masa kelahiran dan kondisi seseorang saat dibesarkan. Tak mengherankan, orang Batak selalu melakukan hajatan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Masyarakat dahulu memetakan kelahiran pada empat kelompok, yaitu marguru tu api, marguru tu aek, marguru tu alogo, dan marguru tu tano. Dalam astrologi kuno dari 12 rasi bintang juga dapat dike lompokkan kepada keempat pemetaan para leluhur masyarakat Batak itu, misalnya aquarius (air) pisces (angin), dan taurus (tanah).

Musim dapat dipetakan pada penghujan dan kemarau, ini yang sangat mudah diamati. Namun, ada dua lagi yang diamati seperti masa angin bertiup dan masa tanah subur. Pemetaan itu juga dipengaruhi alam dan lingkungan tertentu, sehingga dapat dilihat bahwa parhalaan dari Samosir ada bedanya dengan Parhalaan di Toba.

Media bambu Parhalaan biasanya ditulis dalam sepotong bambu. Dalam bentuk yang sama ditulis juga yang menjadi pasangannya yang disebut panggilingan. Keduanya disambungkan dengan tali hingga berdampingan.

Pembuatan kalender lewat media bambu berdasarkan daya tahan se hingga tak koyak karena sering dilihat dan dipegang. Bambu-bambu awalnya dipotong melingkar hingga persegi, dijemur hingga kering, dan dipakai sebagai media.

Parhalaan lebih mengamati pengaruh siklus bumi, matahari, dan bulan. Pengaruh peredaran bimasakti yang disebut dengan pane nabolon juga tidak lepas dari pengamatan mereka. Lewat kalender, manusia lebih dekat kepada alam sehingga tidak berbenturan.
Sifat alam yang berakibat buruk kepada manusia dilambangkan lewat mulut dan ekor kalajengking. Paket hari kalajengking ini ditemukan dua kali dalam sebulan selama empat hari. Dalam empat hari itu hanya tiga hari yang dihindarkan dan satu hari dapat dimanfaatkan. Ketiga hari yang dihindarkan adalah pada posisi mulut, punggung dan ekor. Satu hari yang dapat dimanfaatkan adalah pada posisi perut.

Nikson Imanuel Sihombing, warga Pematang Siantar yang kini ber domisili di Kota Bandung, Jawa Barat, menuturkan penanggalan lewat kalender Batak memang menjadi penting, terutama un tuk mendapati hari baik. “Tradisi leluhur masih berakar pada kami yang ada di perantauan. Kalender Batak memiliki kesakralan, terutama bagi yang mau menentukan tanggal pernikahan,“ tutur alumnus Universitas Padjadjaran, itu.

Sayang, kalender Batak, kini sudah jarang ditemukan di Sumatra Utara, sehingga terbilang hampir punah. Hanya, ditemukan pada beberapa tempat khusus. Untuk itulah, kekayaan budaya masyarakat Batak lewat penanggalan kuno, sejatinya tetap dijaga agar bisa diketahui generasi-generasi mendatang. (M-3) Media Indonesia, 30/11/2014, halaman 10