Pasang Iklan Anda

Pasang Iklan Anda
Situs ini kami sewakan kepada anda pengusaha sewa mobil di Medan

Minggu, 02 November 2014

Masih Ada Bahaya di Sinabung

Erupsi Sinabung masih panjang. Musim penghujan berpotensi membawa banjir lahar. KALAasa korban erupsi Gunung Sinabung untuk mendapat hunian baru mulai terwujud, bahaya baru mengintip mereka. Selain kawasan rawan bencana erupsi bertambah luas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga memperingatkan adanya bencana banjir lahar yang bisa terjadi di musim penghujan.

“Sebelum Oktober, rekomendasi jarak aman dalam radius 3 kilometer. Namun, aktivitas gunung yang terus tinggi membuat radius aman bertambah menjadi 5 kilometer ke arah selatan,“ kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, di Jakarta, kemarin. Status Gunung Sinabung saat ini ialah siaga atau level 3. Ia memastikan masih banyak energi yang ada di dalam perut Sinabung, sehingga erupsi masih berpotensi tinggi dan bersifat fluktuatif.

Selain itu, bahaya mengancam karena wilayah di sekitar Gunung Sinabung juga sudah mulai diguyur hujan. “Warga harus mewaspadai adanya luncuran lahar hujan, yang membawa material gunung. Jumlahnya bisa mencapai 100 juta meter kubik,“ tambah Sutopo. Namun, ia meminta agar masyarakat tenang dan tidak terpancing oleh isu tentang erupsi maupun lahar hujan.
“Masyarakat diharapkan senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo yang akan selalu melaporkan aktivitas Gunung Sinabung,“ tandasnya.

Kemarin, hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di sekitar Sinabung dalam dua hari terakhir telah menyebabkan longsor. Akibatnya, akses jalan di Desa/Kecamatan Mardinding, Kabupaten Karo, terputus. “Banyak batuan dan batang pepohonan yang terbawa air dari Gunung Sinabung,“ ungkap Ketua Masyarakat Relawan Indonesia Karo, Susanto. Gunung Sinabung telah mengalami erupsi freatik sejak Agustus hingga September 2010. Erupsi eksplosif pun menyambungnya, sejak September 2013 hingga saat ini.

Sampai kemarin, BNPB mencatat masih ada 3.284 warga yang mengungsi di 12 titik.Selain itu, ada 6.179 jiwa atau 2.053 kepala keluarga yang tinggal di hunian sementara. Pemerintah sudah menyiapkan lahan relokasi seluas 485 hektare di Kacinambungan Puncak 2.000. Dua hari lalu, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar sudah mengeluarkan izin pelepasan kawasan hutan lindung tersebut. Percepatan surat izin dilakukan setelah Presiden Joko Widodo mengunjungi para pengungsi, awal pekan ini.

Di Cilacap, Jawa Tengah, relokasi terhadap korban bencana longsor yang terjadi di Desa Ujung Barang, Kecamatan Majenang, November 2012, baru terlaksana November ini.Sebanyak 72 keluarga korban akan mendapat rumah baru.Banjir di Solok Awal musim penghujan di sejumlah wilayah di Sumatra juga telah menuai bencana.Setelah banjir di Aceh, kemarin, sekitar 900 rumah di Kabupaten dan Kota Solok, Sumatra Barat, terendam banjir. Sungai Batang Lembang tidak mampu menampung derasnya air hujan, sehingga meluap dan membanjiri wilayah yang dilaluinya.

“Air Sungai Batang Lembang naik 4 meter dari batas normal yang biasanya berada di level 1 meter,“ ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPB Sumatra Barat, Pagar Negara. Dilaporkan, sebanyak 2.824 rumah terendam banjir setinggi 50-100 cm. Di Kota Solok, banjir menyebabkan 3.591 jiwa terdampak dan di Kabupaten Solok 3.755 jiwa harus mengungsi. (PS/LD/YH/Ant/N-3) Media Indonesia, 1/11/2014, halaman 10