Pasang Iklan Anda

Pasang Iklan Anda
Situs ini kami sewakan kepada anda pengusaha sewa mobil di Medan

Selasa, 29 Juli 2014

Pakkat, Khas Ramadan dari Tapanuli Selatan

Uniknya, penganan yang terbuat dari batang rotan muda itu hanya banyak ditemui saat Ramadan.
RAMADAN kerap mendatangkan berkah tersendiri bagi para pedagang musiman. Di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pedagang pakkat, makanan khas bulan puasa, berhasil merebut pasar tradisional daerah tersebut.

Pakkat ialah makanan khas yang terbuat dari pucuk rotan. Bagian pucuknya kemudian dipotong lalu dibakar hingga duri pada bagian kulitnya habis. Bagian daging rotan yang masih muda itulah yang disebut dengan pakkat dan menjadi penganan favorit warga Tapanuli Selatan untuk berbuka puasa.

Para pembeli harus mengeluarkan uang Rp5.000 untuk mendapatkan sepotong pakkat yang berukuran 2x40 cm. “Tiap tahun saya selalu menjual pakkat untuk menu buka puasa,“ tutur Delima Lubis, 36, salah seorang pedagang pakkat di pasar tradisional Padang Sidempuan, kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Ia terlihat sibuk mempersiapkan potongan-potongan pakkat untuk dipasarkan. Delima mengaku sudah menggeluti kegiatan (menjual pakkat) sejak 10 tahun lalu bersama kedua orangtuanya. Bermodalkan sebuah becak, ia juga keliling Kota Padang Sidempuan menjajakan dagangannya sebelum mangkal di pasar tradisional menjelang waktu berbuka puasa.
“Setiap harinya saya bisa memasarkan pakkat hingga 250 potong. Lumayanlah, dari hasil jualan ini bisa saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan seharihari,“ aku Delima.

Batang rotan muda yang jadi bahan baku utama pakkat memang menjadi incaran masyarakat setempat menjelang Ramadan. Bahkan, tidak jarang warga memborongnya dalam jumlah besar.

Pakkat tersebut jadi bahan campuran sambal dan juga sayuran karena akan terasa lebih gurih. “Tergantung selera peminatnya,“ ujarnya.

Menambah selera Secara terpisah, Umi Kalsum Panggabean, 41, mengaku mendapatkan pakkat dari Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. “Pakkat tersebut dipasarkan setiap bulan puasa. Di bulan-bulan lain kita tidak menemukannya di pasar tradisional Padang Sidempuan,“ katanya.

Sama dengan pengakuan Rina, 25, warga Padang Sidempuan. Selama Ramadan, ia selalu datang ke pasar tradisional hanya untuk mendapatkan pakkat. “Sepertinya memang sudah menjadi ciri khas masyarakat Tapanuli Selatan saat Ramadan tiba.“
Menurut dia, pakkat mampu menambah selera makan, juga sangat nikmat bila dihidangkan bersama nasi saat berbuka puasa.
Pakkat, yang berasal dari Tapanuli Selatan, kini juga digemari di masyarakat Sumatra Utara lainnya, seperti warga Medan. Seperti di Jalan Panglima Denai, Kota Medan, penjual pakkat tidak pernah sepi dari pembeli.

Setiap hari, mereka harus menyediakan ratusan batang rotan muda untuk memenuhi permintaan pembeli.
Bukan hanya sebagai penambah selera makan, sebagian warga bahkan memercayai pakkat juga bisa menyembuhkan masuk angin. Anda penasaran ingin mencoba? (S-3) - Media Indonesia, 22 Juli 2014, Halaman 15