Pasang Iklan Anda

Pasang Iklan Anda
Situs ini kami sewakan kepada anda pengusaha sewa mobil di Medan

Senin, 07 Juli 2014

KULINER Bubur Pedas Takjil Khas Melayu Deli

MASJID Raya Al Mansun peninggalan Sultan Mahmud Al Rasyid sejak lama telah menjadi ikon Kota Medan, Sumatra Utara. Saat memasuki Ramadan, ada yang khas di masjid tersebut, yakni penyediaan sajian berbuka puasa (takjil) berupa bubur pedas khas Melayu Deli. Tradisi yang sudah berlangsung sejak bertahun-tahun lampau itu menjadi bagian yang identik dengan masjid bersejarah itu.

Makanan sederhana itu konon sudah ada sejak 1906 dan merupakan favorit keluarga Kesultanan Deli yang bertakhta di masa itu. Siapa saja kaum muslimin yang berbuka puasa di masjid tersebut pasti akan disuguhi bubur pedas nan sedap itu. Menurut Hamdan, 41, seorang juru masak khusus bubur pedas Masjid Raya Al Mansun, para pengurus Yayasan Masjid Raya Al Mansun itu menyediakan tidak kurang dari 500 porsi bubur pedas setiap harinya sepanjang Ramadan. Jumlah itu disesuaikan dengan jumlah rata-rata jemaah yang berbuka puasa di masjid tersebut.

Hamdan menjelaskan proses pembuatan bubur khas Melayu Deli itu memakan waktu lumayan lama. “Waktu berbuka di Medan sekitar pukul 18.41 WIB, maka sejak pukul 08.00 pagi kami sudah mulai meracik aneka bumbu dan bahan untuk memasak bubur pedas ini,“ jelasnya, di Medan, Rabu (2/7).

Menurut Ramdan, selain beras, bahan baku utamanya juga mencakup kacang merah, kacang kuning, ayam, cumi-cumi, hingga ikan asin. Bahan dan bumbu yang cukup banyak membuat proses memasak menjadi rumit sehingga dibutuhkan juru masak yang berpengalaman. Para juru masak itu memperoleh keahlian secara turun-temurun.

“Setiap hari di bulan Ramadan, kami memasak bubur dari 25 kg beras, 5 kg daging, dan campuran sayur-mayurnya lebih kurang 10 kg, ditambah dengan santan. Cara memasak sayurannya seperti memasak sup. Bubur yang telah selesai dimasak disajikan di ratusan piring,“ papar Hamdan.

Bubur yang biaya pembuatannya diperoleh dari sumbangan para jemaah itu selalu menjadi daya tarik bagi setiap orang. Setiap hari, sebelum selesai dimasak, sedikitnya 50-an kaum muslim sudah antre menunggu di dekat tempat memasak. Mereka umumnya membawa rantang atau wadah lainnya. “Kami juga menyediakan bubur dalam kemasan yang bisa dibawa pulang untuk mereka yang tidak berbuka di sini,“ pungkas Hamdan. (PS/H-3) - Media Indonesia, 5 Juli 2014, Halaman 13